Skip to content

TES WHO AM I

Dapatkah kamu memberi gambaran tentang dirimu sendiri? Baca kalimat dibawah ini dengan hati-hati, apabila kamu mempertimbangkan kalimat tersebut dengan baik. Silahkan beri tanda cawang (   ) pada:

      Kolom 1, apabila setelah kamu mempertimbangkan kalimat tersebut cocok seperti dirimu, silahkan memberi tanda cawang (   ) pada kolom 2, apabila kalimat tersebut agak cocok seperti dirimu, dan apabila kalimat sama sekali tidak sepertio dirimu silahkan memberi tanda cawang (   ) pada kolom 3.

      Baca dengan baik setiap kalimat, pertimbangkan secara masak dengan dirimu, baru kemudian memberi tanda cawang (   ) pada kolom yang sesuai:

Cocok

Agak Cocok

Tidak Cocok

No

      a. Saya adalah seorang yang sanggup membuat rencana yang baik di dalam sekolah, di luar sekolah, dalam permainan dan tugas
      b. Saya adalah seorang pemimpin yang baik. Saya adalah pemimpin dalam berbagai bidang
      c. Saya adalah orang yang segan bermain-main bersama dengan teman sekelompok
      d. Saya adalah orang yang selalu merusak dan melanggar peraturan-peraturan sekolah maupun pergaulan
      e. Saya adalah seorang yang selalu bekerja untuk kepentingan kelas atau kelompok saya atau teman saya

 

      f. Untuk mendapatkan teman, saya  sukar untuk bergaul dengan mereka.
      g. Saya adalah seorang yang tidak bahagia, tidak ada seorangpun dapat membuat saya gembira
      h. Saya adalah seorang yang sukar untuk mengemukakan pendapat, sehingga tidak seorangpun dapat mengerti pendapatsaya
      i. Saya adalah orangyang sangat populer dikelompok saya
      j. Saya adalahorang yang paling menurut dikelompok saya
      k. Saya adalah seorang yang mempunyai ide-ide baik yang menyenangkkan dalam aktifitas pergaulan maupun pelajaran
      l. Saya adalah seorang yang mudah marah, mudah memulai pertengkaran
      m. Saya adalah seorang yang kejam terhadap teman-teman yang kecil
      n. Saya aadalah seorang yang banyak mempunyai teman

 

Saya adalah:

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

“ DINAMIKA KELOMPOK 1”

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

  1. Kelompok adalah kumpulan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain serta memiliki kepentingan bersama. Kumpulan ini kemudian menjadikan sebuah kelompok sebagai kelompok formal atau informal, kedua kelompok ini sering dipergunakan dalam semua bentuk usaha dan organisasi, baik yang bersifat sosial, keagamaan, politis maupun dunia usaha perdagangan. Sebagian besar kegiatan dalam lembaga pendidikan juga berlangsung dalam kelompok formal yang disebut komite. Bentuk komite yang paling menonjol dalam lembaga usaha / perusahaan besar, lazim disebut “Board of Director”, badan tertinggi dalam manajemen suatu perusahaan. Pendirian kelompok sangatlah penting di dalam sebuah kegiatan yang dilakukan oleh beberapa orang atau individu untuk memecahkan / menyelesaikan tugas, problem, atau masalah bersama-sama, karena masalah, problem yang ada tidak munkin diselesaikan oleh individu per individu. Untuk itulah dengan kesadaran ataupun tanpa disadari oleh masing-masing orang mereka akan berusaha untuk ikut serta berpartisipasi dengan membentuk kelompok, tentunya melalui beberapa persetujuan-persetujuan pihak-pihak yang ada didalamnya.

B. RUMUSAN MASALAH

  1. Apakah pentingnya pembentukan kelompok kerja yang dinamis?
  2.  Apa yang dihadapi oleh kelompok kerja?
  3. Bagaimana membangun kelompok yang dinamis?
  4. Bagaimana prinsip sinergi dalam kelompok?

C. TUJUAN PENULISAN

  1.   Mengetahui pentingnya sebuah kelompok dan masalah yang ada didalamnya

D.MANFAAT PENULISAN

  1. Dapat memenuhi tugas Psikologi Industri
  2. Dapat mengetahui pentingnya sebuah kelompok dan masalah-masalah yang ada didalamnya.

BAB II PEMBAHASAN

Pengertian mendasar tentang kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain serta memilki tujuan bersama. Kumpulan orang-orang ini kemudian menjadikan sebuah kelompok (kelompok formal dan kelompok informal). Dua jenis kelompok tersebut sering digunakan dalam semua bentuk usaha dan organisasi, baik yang bersifat social, keagamaan, politik maupun dunia usah perdagangan. Suatu kelompok terjadi karena adanya kebutuhan untuk menyelesaikan tugas, problem, atau masalah bersama-sama, dalam organisasi bisnis bentuk kelompok yang dipandang cukup efektif oleh beberapa kalangan adalah Quality Circle. Quality Circle ini sering dimanfaatkan oleh perusahaan untuk mewujudkan tujuan organisasi yang lebih besar yaitu meningkatkan laba perusahaan melalui efisiensi di tempat kerja. Untuk mewujudkan penyelesaian persoalan dalam kelompok diperlukan peran supervisor. Seorang supervisor sebagai pimpinan dalam unit kerja harus dapat melibatkan anggota kerjanya dan menyalamatkan masalah yang dihadapi, agar kerjasama tim dapat berhasil dengan baik, para anggotanya perlu memilki kemampuan berinteraksi dan mengadakan hubungan antar pribadi yang baik. Interaksi kelompok biasanya berlangsung melalui proses tertentu, yaitu pembentukan, perpecahan, penyesuaian, perubahan yang terjadi secara berulang-ulang. A. Pentingnya Pembentukan Kelompok Kerja Yang Dinamis 1. Kelompok Kerja Sebagai Organisasi Kecil Di dalam setiap organisasi selalu terdapat kelompok-kelompok, baik yang formal (seperti, kelompok kerja dan serikat pekerja), maupun yang informal (seperti kelompok yang berdasarkan kesamaan hobi). Munculnya kelompok kerja merupakan bagian dari kehidupan organisasi, dengan kata lain bahwa kelompok kerja merupakan sebuah organisasi kecil dan suatu organisasi yang lebih besar. Organisasi-organisasi kecil yang dianggap sebagai kelompok memang keberadaannya dibutuhkan oleh organisasi-organisasi besar demi pencapaian tujuan organisasi-organisasi yang besar. Namun adakalanya juga terjadi pada beberapa kasus kalau beberapa kelompok kerja tidak dapat terbentuk dengan sendirinya, meskipun juga telah diatur secara formal, padahal mereka juga diarahkan pada pencapaian tujuan secara bersama, sehingga mengakibatkan beberapa orang belajar secara individualis dan tidak merupakan suatu satuan kelompok. Beberapa alasan orang masuk dalam kelompok : • mengurangi perasaan tidak aman • kebanggan diri karena menjadi bagian dari kelompok tertentu • Mendapatkan harga diri yang lebih baik • Memenuhi kebutuhan afiliasi • Memuaskan kebutuhan untuk menguasai orang lain • Mencapai prestasi atas tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau kelompok 2. Kelompok Kerja Untuk Mencapai Tujuan Secara Efektif Penetapan tujuan oleh organisasi, pada akhirnya akan membawa dampak pada munculnya berbagai jenis pekerjaan tertentu. Berbagai jenis pekerjaan ini tercipta dan terarah untuk kepentingan pencapaian tujuan, karena kepentingan dan arah yang sama maka berbagai jenis pekerjaan ini saling berangkai dan berkaitan satu sama lain. Dalam setiap organisasi akan mempunyai berbagai jenis kelompok kerja berdasarkan pada jenis kegiatan dan macam keterampilan yang disyaratkan. Pada akhirnya dapat difahami kalau makin banyak jenis pekerjaan di dalam organisasi maka makin banyak pula jenis kelompok kerja, inilah yang kemudian menyebabkan adanya bermacam-macam kelompok kerja di dalam suatu organisasi. Pembentukan kelompok kerja di dalam organisasi sebaliknya mengikuti dinamika organisasi artinya pencapaian tujuan organisasi disesuaikan dengan situasi dan kondisi, bila kondisi pasar lagi menguntungkan maka besaran keuntungan (sabagai tujuan) yang dipatok organisasi akan besar, demikian sebaliknya makin lesu kondisi pasar maka makin kecil besaran keuntungan yang ditetapkan organisasi. B. Apa Yang Dihadapi Oleh Kelompok Kerja Dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, perlu ditentukan dan dipastikan apakah masing-masing dari setiap anggota kelompok telah mengetahui tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu sudah merupakan suatu keharusan bagi semua anggota kelompok bahwa tujuan kelompok harus dikenali oleh setiap anggotanya. Pengetahuan terhadap tujuan kelompok memberikan dasar bagi masing-masing orang untuk menyamakan persepsi atas tujuan kelompok. Penyampaian informasi tentang kelompok harus merata diantara para anggota, setiap orang sebaiknya memilki sejumlah informasi yang setara dan sama tentang tujuan kelompok, anggota kelompok yang memilki sejumlah informasi yang paling banyak akan lebih banyak mengendalikan kerja kelompok. Bagi ornag yang hanya memiki sedikit informasi tentang kelompok maka dia akan mudah dipengaruhi oleh anggota lain yang memilki jumlah informasi peling banyak. Apabila kondisi tersebut di atas terjadi, maka anggota kelompok dapat mengalami kesulitan dalam proses pencapaian tujuan. Masalah utama yang muncul adalah apakah masing-masing anggota mampu untk melaksankan tugasnya dengan baik manakala informasi tentang tujuan organisasi sangat terbatas sekali. Kelengkapan masing-msing dari anggota sangat dibutuhkan agar seluruh anggota memilki kesetaraan informasi. Kesetraan informasi ini memudahkan kelompok untuk mengorganisir langkah anggota dalam mencapai tujuan dan mencari solusi alternatif makin bergam. Namun adakalanya kesetaraan informasi juga menimbulkan masalah, apabila masing-masing di dalam organisasi yang telah memilki informasi dalam jumlah yang setara itu tidak saling membuka diri atau tidak saling mengisi kelemahan rekan yang lain, maka setiap orang akan merasa dirinya yang paling lengkap informasinya. Setelah masing-masing anggota yang memilki sejumlah informasi tentang pencapaian tujuan kelompok maka langkah selanjutnya adalah mereka harus secara bersama-sama berusaha mencpai tujuan dengan cara memecahkan satu persatu persoalan yang sedang menghadang mereka. Apapun kodisi yang dihadapi oleh kelompok. mereka tidak dibenarkan untuk mengeluh saja tanpa harus segera berusaha segera memecahkannya, apalagi harus menorah tanpa syarat. C. Bagaimana Membangun Kelompok Yang dinamis Tachman menyatakan bahwa proses terbentuknya kelompok mengikuti proses sebagai berikut : 1. Forming, yaitu proses awal pembentukan kelompok kerja 2. Shorming, yaitu proses dimana masing-masing orang didalam kelompok berusaha untuk saling menyesuaikan diri dengan cara menyatukan nilai-nilai yang dianutnya 3. Norming, yaitu proses ketika konfliksudah mereda dan masing-masing orang sudah mulai menyatukan diri dalam visi dan misi, diantara mereka lebih mementingkan pencapaian tujuan kelompok dari pada kepentingan pribadinya. 4. Performing, yaitu setelah setiap anggota di dalam kelompok mulai menyatukan dri dalam visi dan misi dan yang penting adalah proses pencapaian tujuan kelompok, maka proses selanjutnya adalah mulai menghasilkan sebuah karya kelompok. 5. Adjoining, proses ini terjadi di dalam kelompok yang merasa puas atas tercapainya tujuan kelompok Memperhaikan penjelasan di atas, terutama pada kelompok yang merasa puas atas tercapainya tujuan kelompok kerja, maka kelompok kerja dapat dibangun atau dibentuk secara praktis sebagaimana berikut di bawah ini : 1. Laksanakan komunikasi yang efektif antar anggota, kalau kegiatan ini dapat dilakukan maka : a. masalah yang timbul segera diketahui untuk segera dipecahkan b. perubahan untuk perkembangan yang timbul atau terjadi dapt segera diketahui oleh para anggota c. perubahan atau perkembangan yang timbul atau terjadi dapat segera diketahui oleh para anggota d. informasi yang terbatas dapat dilpat gandakan menjadi informasi yang lengkap melalui penyampaian informasi oleh rekan anggota kelompok yang lain e. kemampuan masing-masing anggota dapat ditingkatkan. 2. Tingkatkan interaksi anggota, kegiatan meningkat interaksi di antara anggota melalui berbagai bentuk tugas yaitu : a. peningkatan kerjasama anggota b. Peningkatan daya saing anggota c. Mendayagunakan konflik yang timbul untuk tujuan positif d. Peningkatan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi tugas anggota secara harmonis. 3. Melakukan peningkatan keterbukaan dan konsistensi, upaya ini dilakukan dengan tujuan agar : a. memperkecil masalah pribadi yang berpengaruh pada pencapaian tujuan organisasi b. mempermudah cara pemilihan alternatif yang penting dan memlih yang tebaik untuk dilakukan 4. Mengenali masalah dan mampu mengambil keputusan, cara ini dapat dilkukan dengan kondisi bahwa : a. Masalah yang timbul selalu dihubungkan dengan fakta yang relevan b. Keputusan yang diambil lebih tepat karena berdasarkan f akta c. Masalah yang timbul dapat segera dipecahkan 5. Tingkatkan kualitas anggota, langkah ini bila dilakukan dengan baik maka akibat yang dimunculkan dapat berupa : a. Selalu timbul ide baru yang memberikan semangat kerja b. Altrenatif yang timbul lebih dekat dengan pemecahan masalah yang akan dilaksanakan c. Bila kondisi poin diatas dapat terlaksana maka jalan bunt apapun yang dihadapi oleh kelompok dapat segera dicarikan segera jalan keluarnya. D. Prinsip Sinergi Dalam Kelompok Pendayagunaan kelompok agar bisa efektif dalam pencapaian tujuan dapat menggunkan teknik sinergi . prinsip sinergi ini adalah prinsip alamiah yang dapat kita rasakan sehari-hari. Apabila seseorang bekerja secara sendiri-sendiri maka hasil yang diperoleh adalah sama dengan satu, apabila 2 orang bekerja bersama-sama hasil yang diperoleh pasti lebih banyak, prisip sinergi ini menekankan mengenai pentingnya usaha kelompok yang kompak akan lebih berhasil dari pada bekerja sendiri-sendiri.

BAB III PENUTUPAN KESIMPULAN

Kelompok merupakan kumpulan dari dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain serta memilki tujuan bersama. Kelompok terjadi karena adanya kebutuhan untuk menyelesaikan tugas dan masalah secara bersama-sama. Memudahkan suatu pekerjaan karena dikerjakan secara bersama-sama. Dalam suatu kelompok dapat terjadi berbagai masalah seperti kesenjangan informasi dari tiap anggota kelompok, oleh karena itu hendaknya tiap anggota kelompok memilki informasi yang sama mengenai apapun yang ada dalam kelompok seperti tujuan kelompok. Karena dengan memilki informasi yang sama tiap anggota kelompok memudahkan dalam proses pencapaian tujuan kelompok. Bekerja dengan kelompok akan lebih baik dengan bekerja sendiri-sendiri yang sesuai dengan prinsip sinergi dalam kelompok.

Retardasi Mental

A. GANGGUAN MENTAL
1. PENGERTIAN GANGGUAN MENTAL
Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental. Retardasi mental sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:
a. Lemah fikiran ( Feeble-minded);
b. Terbelakang mental (Mentally Retarded);
c. Bodoh atau dungu (Idiot);
d. Pandir (Imbecile);
e. Tolol (Moron);
f. Oligofrenia (Oligophrenia);
g. Mampu Didik (Educable);
h. Mampu Latih (Trainable);
i. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat;
j. Mental Subnormal;
k. Defisit Mental;
l. Defisit Kognitif;
m. Cacat Mental;
n. Defisiensi Mental;
o. Gangguan Intelektual
Di Amerika Serikat prevalensi gangguan ini adalah 3:100 orang (The Arc, 2001). American Psychiatric Accociation tahun 2000 (dalam Rathus, 2005, h.149-153) menyatakan penyebab dari retardasi mental dapat disebabkan oleh:
a. Sindrom down dan abnormalitas kromosom lainnya
Wade pada tahun 2000 menyatakan abnormalitas kromosom yang paling umum menyebabkan retardasi mental adalah sindrom down yang ditandai oleh adanya kelebihan kromosom atau kromosom ketiga pada pasangan kromosom ke 21, sehingga mengakibatkan jumlah kromosom menjadi 47.
Anak dengan sindrom down dapat dikenali berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu, seperti wajah bulat, lebar, hidung datar, dan adanya lipatan kecil yang mengarah kebawah pada kulit dibagian ujung mata yang memberikan kesan sipit. Lidah yang menonjol, tangan yang kecil, dan berbentuk segi empat dengan jari-jari pendek, jari kelima yang melengkung, dan ukuran tangan dan kaki yang kecil serta tidak proporsional dibandingkan keseluruhan tubuh juga merupaka ciri-ciri anak dengan sindrom down. Hampir semua anak ini mengalami retardasi mental dan banyak diantara mereka mengalami masalah fisik seperti gangguan pada pembentukan jantung dan kesulitan pernafasan.
b. Sindrom Fragile X dan Abnormalitas genetik lainnya
Sindrom fragile X merupakan tipe umum dari retardasi mental yang diwariskan. Gangguan ini disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X. gen yang rusak berada pada area kromosom yang tampak rapuh, sehingga disebut sindrom fragile X. sindrom ini menyebabkan retardasi mental pada 1000-1500 pria dan hambatan mental pada setiap 2000-2500 perempuan. Efek dari sindrom fragile X berkisar antara gangguan belajar ringan sampai retardasi parah yang dapat menyebabkan gangguan bicara dan fungsi yang berat.
Phenylketonuria (PKU) merupakan gangguan genetik yang terjadi pada satu diantara 10000 kelahiran. Gangguan ini disebabkan adanya satu gen resesif yang menghambat anak untuk melakukan metabolisme. Konsekuensinya, phenilalanin dan turunannya asam phenilpyruvic, menumpuk dalam tubuh, menyebabkan kerusakan pada system saraf pusat yang mengakibatkan retardasi mental dan gangguan emosional.
c. Faktor prenatal
Penyebab retardasi mental adalah infeksi dan penyalahgunaan obat selama ibu mengandung. Infeksi yang biasanya terjadi adalah Rubella, yang dapat menyebabkan kerusakan otak. Penyakit ibu juga dapat menyebabkan retardasi mental, seperti sifilis, cytomegalovirus, dan herpes genital. Obat-obatan yang digunakan ibu selama kehamilan dapat mempengaruhi bayi melalui plasenta. Sebagian dapat menyebabkan cacat fisik dan retardasi mental yang parah.
Anak-anak yang ibunya minum alkohol selama kehamilan sering lahir dengan sindrom fetal fetal, dan merupakan kasus paling nyata sebagai penyebab retardasi mental. Komplikasi kelahiran, seperti kekurangan oksigen atau cedera kepala, infeksi otak, seperti encephalitis dan meningitis, terkena racun, seperti cat yang mengandung timah sangat berpotensi menyebabkan retardasi mental.
d. Faktor-faktor psikososial
Penyebab retardasi mental pada sebagian kasus disebabkan faktor psikososial, seperti lingkungan rumah, atau sosial yang miskin, yaitu yang tidak memberikan stimulasi intelektual, penelantaran, atau kekerasan dari orang tua dapat menjadi penyebab atau memberi kontribusi dalam perkembangan retardasi mental.
Kasus yang berhubungan dengan aspek psikososial disebut sebagai retardasi budaya-keluarga (cultural-familial retardation). Individu dalam keluarga miskin kekurangan keperluan untuk menerima pendidikan dan pengembangan keterampilan-keterampilan. Akibatnya, individu menjadi retardasi mental akibat dari kemiskinan, tidak menerima pendidikan dan larangan-larangan pada budaya tertentu untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan individu.
Menurut PPDGJ III Retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh adanya penurunan keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat intelegensi yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
American Asociation on Mental Deficiency/AAMD mendefinisikan Retardasi mental sebagai kelainan:
1. Yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes;
2. Yang muncul sebelum usia 16 tahun;
3. Yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.

Sedangkan pengertian Retardasi mental menurut Japan League for Mentally Retarded (1992) sebagai berikut:
1. Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku.
2. Kekurangan dalam perilaku adaptif
3. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.

A. PENYEBAB RETARDASI MENTAL
Retardasi mental dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Genetik.
a. Kerusakan/Kelainan Biokimiawi.
b. Abnormalitas Kromosomal (chromosomal Abnormalities).
c. Anak retardasi mental yang lahir disebabkan oleh faktor ini pada umumnya adalah Sindroma Down atau Sindroma mongol (mongolism) dengan IQ antar 20 – 60, dan rata-rata mereka memliki IQ 30 – 50.
2. Pada masa sebelum kelahiran (pre-natal).
a. Infeksi Rubella (Cacar)
b. Faktor Rhesus (Rh)
3. Pada saat kelahiran (perinatal)
Retardasi mental/tunagraita yang disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada saat kelahiran adalah luka-luka pada saat kelahiran, sesak nafas (asphyxia), dan lahir rematur.
4. Pada saat setelah lahir (post-natal)
Penyakit-penyakit akibat infeksi misalnya: Meningitis (peradangan pada selaput otak) dan problema nutrisi yaitu kekurangan gizi misalnya: kekurangan protein yang diderita bayi dan awal masa kanak-kanak dapat menyebabkan retardasi mental.
5. Faktor sosio-kultural.
Sosio kultural atau sosial budaya lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan intelektual manusia.
6. Gangguan Metabolisme/Nutrisi.
a. Phenylketonuria. Gangguan pada metabolisme asam amino, yaitu gangguan pada enzym Phenylketonuria.
b. Gargoylisme. Gangguan metabolisme saccharide dalam hati, limpa kecil, dan otak.
c. Cretinisme. Gangguan pada hormon tiroid yang dikenal karena defisiensi yodium.

Secara umum, Grossman et al, 1973, menyatakan penyebab retardasi mental akibat dari:
1. infeksi dan/atau intoxikasi,
2. rudapaksa dan/atau sebab fisik lain,
3. gangguan metabolisma, pertumbuhan atau gizi (nutrisi),
4. penyakit otak yang nyata (kondisi setelah lahir/post-natal),
5. akibat penyakit atau pengaruh sebelum lahir (pre-natal) yang tidak diketahui,
6. akibat kelainan kromosomal,
7. gangguan waktu kehamilan (gestational disorders),
8. gangguan pasca-psikiatrik/gangguan jiwa berat (post-psychiatrik disorders),
9. pengaruh-pengaruh lingkungan, dan
kondisi-kondisi lain yang tak tergolongkan.
Secarra Umum Faktor yang mempengaruhi Gangguan Mental adalah
Mental sehat manusia dipengaruhi oleh faktor internal dan external. Keduanya saling mempengaruhi dan dapat menyebabkan mental yang sakit sehingga bisa menyebabkan gangguan jiwa dan penyakit jiwa.
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang seperti sifat, bakat, keturunan dan sebagainya. Contoh sifat yaitu seperti sifat jahat, baik, pemarah, dengki, iri, pemalu, pemberani, dan lain sebagainya. Contoh bakat yakni misalnya bakat melukis, bermain musik, menciptakan lagu, akting, dan lain-lain. Sedangkan aspek keturunan seperti turunan emosi, intelektualitas, potensi diri, dan sebagainya.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berada di luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi mental seseorang. Lingkungan eksternal yang paling dekat dengan seorang manusia adalah keluarga seperti orang tua, anak, istri, kakak, adik, kakek-nenek, dan masih banyak lagi lainnya.
Faktor luar lain yang berpengaruh yaitu seperti hukum, politik, sosial budaya, agama, pemerintah, pendidikan, pekerjaan, masyarakat, dan sebagainya. Faktor eksternal yang baik dapat menjaga mental seseorang, namun faktor external yang buruk / tidak baik dapat berpotensi menimbulkan mental tidak sehat.
B. KARAKTERISTIK ANAK RETARDASI MENTAL
Karakteristik anak retardasi mental menurut Brown et al, 1991; Wolery & Haring, 1994 pada Exceptional Children, fifth edition, p.485-486, 1996 menyatakan:
1. Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.
2. Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
3. Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak retardasi mental berat.
4. Cacat fisik dan perkembangan gerak. Kebanyakan anak denga retardasi mental berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan, tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana, sulit menjangkau sesuatu , dan mendongakkan kepala.
5. Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak retardasi mental berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti: berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar.
6. Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler, tetapi anak yang mempunyai retardasi mental berat tidak meakukan hal tersebut. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak retardasi mental dalam memberikan perhatian terhadap lawan main.
7. Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Banyak anak retardasi mental berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala, dll.

C. KLASIFIKASI RETARDASI MENTAL
Pengklasifikasian/penggolongan Anak Retardasi mental untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) sebagai berikut:
1. EDUCABLE Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.
2. TRAINABLE Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuanya untuk mendapat pendidikan secara kademik.
3. CUSTODIAL Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus.

Sedangkan penggolongan Retardasi mental untuk Keperluan Pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Taraf perbatasan (borderline) dalam pendidikan disebut sebagai lamban belajar (slow learner) dengan IQ 70 – 85.
2. Retardasi mental mampu didik (educable mentally retarded) dengan IQ 50 – 75 atau 75.
3. Tunagrahit mampu latih (trainable mentally retarded) dengan IQ 30 – 50 atau IQ 35 – 5
4. Retardasi mental butuh rawat (dependent or profoundly mentally retarded) dengan IQ dibawah 25 atau 30

Penggolongan Retardasi mental secara Medis-Biologis menurut Roan, 1979, adalah sebagai berikut:
1. Retardasi mental taraf perbatasan (IQ: 68 – 85).
2. Retardasi mental ringan (IQ: 52 – 67).
3. Retardasi mental sedang (IQ: 36 – 51).
4. Retardasi mental berat (IQ: 20 – 35).
5. Retardasi mental sangat berat (IQ: kurang dari 20); dan
6. Retardasi mental tak tergolongkan.
Adapun penggolongan Retardasi mental secara Sosial-Psikogis terbagi 2 (dua) kriteria yaitu: psikometrik dan perilaku adaptif.

Ada 4 (empat) taraf Retardasi mental berdasarkan kriteria psikometrik menurut skala inteligensi Wechsler (Kirk dan Gallagher, 1979, dalam B3PTKSM, p. 26), yaitu:
1. Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55 – 69.
2. Retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40 –54.
3. Retardasi mental berat (severe mental tetardation) dengan IQ: 20 – 39.
4. Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah.
5. Penggolongan anak Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf inteligensi, tetapi berdasarkan kematangan sosial. Hal ini juga mempunyai 4 (empat) taraf, yaitu:
a. Ringan;
b. Sedang;
c. Berat; dan
d. Sangat Berat.
6. TINGKAT RETARDASI MENTAL

Derajat keparahan Perkiraan tentang IQ Jumlah penyandang Retardasi mental dalam rentang ini.
Retardasi mental ringan (mild) 50-55 sampai sekitar 70 Kira-kira 85%
Retardasi mental sedang (moderate) 35-40 sampai 50-55 10%
Retardasi mental berat (severe) 20-25 sampai 35-40 3-4%
Retardasi mental parah (profound) Di bawah 20-25 1-2%

7. TINGKAT RETARDASI MENTAL, PERKIRAAN RENTANG IQ, DAN JENIS TINGKAH LAKU ADAPTIF YANG TERLIHAT
Perkiraan rentang skor IQ Usia prasekolah 0-5 tahun
kematangan&perkembangan Usia sekolah 6-21 tahun
Pelatihan dan pendidikan
Ringan 50-70 Sering terlihat tidak memiliki gangguan tetapi lambat dalam berjalan, makan sendiri dan bicara dibanding anak-anak lainnya Menguasai keterampilan praktis serta kemampuan membaca dan aritmatika sampai kelas 3-6 SD dengan pendidikan khusus. Dapat diarahkan pada konformitas sosial.
Sedang 35-49 Keterlambatan yang nyata pada perkembangan motorik, terutama dalam bicara ; berespon terhadap pelatihan dalam berbagai aktivitas self help Dapat mempelajari komunikasi sederhana, perawatan kesehatan dan keselamatan dasar, serta keterampilan tangan sederhana; tidak mengalami kemajuan dalam fungsi membaca atau aritmatika
Berat 20-34 Ditandai dengan adanya keterlambatan dalam perkembangan motorik, kemampuan komunikasi yang minim atau tidak ada sama sekali; dapat berespon terhadap pelatihan self help mendasar misalnya makan sendiri. Biasanya mampu berjalan, tetapi memiliki ketidakmampuan yang spesifik; dapat mengerti pembicaraan dan memberikan respon; tidak memiliki kemajuan dalam kemampuan membaca atau aritmatika
Parah dibawah 20 Retardasi motorik kasar; kapasitas minimal untuk berfungsi pada area sensori motor; membutuhkan bantun rawat Keterlambatan yang terlihat jelas dalam semua area perkembangan; dapat menunjukkan respon emosional dasar; mungkin berespon terhadap pelatihan keterampilan dengan menggunakan kaki, tangan, dan rahang;memerlukan supervisi/ pengawasan yang ketat

Daftar Pustaka

Rathus, S.A., Nevid, J.J. 2005. Abnormal Psychology. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.

The Arc of the United States. 2004. Mental Retardation http://www.nichcy.org/pubs/factshe/fs8txt.htm. Diakses tanggal 4 April 2010